Home Edukasi Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Bekasi (2)

Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Bekasi (2)

Perkenalan yang Bukan Sekadar Berkenalan

78
0
SHARE
Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Bekasi (2)

Sebanyak 14 Mahasiswa Program Perkuliahan Karyawan (P2K) Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) melakukan Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di SMPN 24 Kota Bekasi, Jawa Barat, selama 3 bulan, mulai Agustus hingga Oktober 2026. Salah seorang mahasiswa yang juga jurnalis  menceritakan pengalaman mengajarnya.

Bekasi, parahyangan-post.com-Hari-hari pertama di dalam kelas diisi dengan perkenalan. Mahasiswa yang melakukan PPL memperkenalkan diri di kelas tempatnya mengajar masing-masing.

Yang diperkenalkan, selain biodata diri mahasiswa, juga kampus tempat kuliah. Ketika ditanyakan kepada pelajar tersebut  ”Sajauh mana  kalian mengenal kampus kami? (UIA-red)”. Tak ada yang menjawab. Bahkan setelah diberikan kisi-kisi, seperti alamat, lambang kampus dlsb. Tetap saja mereka diam.

Ini wajar! Orientasi pelajar SMP setelah lulus adalah SMA, bukan universitas. Jadi yang terbayang dalam pikiran mereka adalah SMA-SMA terbaik dan terdekat yang akan mereka tuju setelah tamat. Kalau universitas terlalu melompat. Belum ada dalam bayangan mereka.  

Bahkan ketika ditanyakan kepada mereka ”Kampus-kampus mana saja yang pernah kalian kenal” hanya satu dua yang menjawab UI, ITB. Lain dari itu mereka masih samar.

Setelah memperkanlakan diri, mahasiswa PPL kemudian meminta para pelajar yang memperkanalkan dirinya. Tentu tidak semua, karena keterbatasan waktu. Jadual mengajar BK di kelas, baik kelas 7,8 maupun 9,  cuma 1 jam pelajaran (40 menit) per minggu.

https://parahyangan-post.com/berita/detail/ngintip-mahasiswa-uia-ppl-di-smp-24-kota-bekasi-1--

Mahasiswa PPL merangsang pelajar yang berani memperkenalkan diri terlebih dahulu. Ada beberapa pelajar yang tunjuk tangan. Mahasiswa PPL mengapresiasi keberanian mereka itu dan menyuruhnya berdiri depan kelas untuk memperkenalkan diri. Yang wajib diperkenalkan adalah, nama, umur, alamat, panggilan akrab dan cita-cita. Selain itu mereka diberi kesempatan berimprovisai.

Ternyata banyak pelajar yang berani berimprovisasi dengan gaya kekinian, khas remaja puber, yang membuat kelas heboh. Rekan-rekannya terus memancing agar yang dipenalkan lebih banyak lagi. Termasuk pacar dlsb. Ini membuat suasana perkenalan semakin hidup dan membuat pelajar lain, yang tadinya malu-malu untuk  berani tampil.

Acara perkenalan ini cukup seru, dan membuat kelas cair dan bersemangat. Mahasiswa PPL tidak hanya mencari informasi tentang biodata pelajar tetapi juga orientasinya, keadaan keluarga dan lingkungan.

Banyak pelajar yang terbuka memperkenalkan diri, sampai ke yang lebih detail, termasuk  posisinya di dalam keluarga. Misalnya ketika ditanyakan kepada mereka bagaimana keadaan keluargamu di rumah, bagaimana perhatian orang tuamu terhadapmu,   kenapa kalian memilih SMP 24 sebagai tempat belajar. Bagaimana menurut kalian cara mengajar guru-gurunya?  Rata-rata jawabnya kondisi keluarganya baik dan menyenangkan, perhatian orang tua cukup baik. Bahkan ada yang menjawab, dia mendapat posisi yang istimewa. Dia memilih sekolah karena dekat dan guru-gurunya menyenangkan. Ada juga yang menjawab lebih spesifik dengan perasaan yang tidak canggung.

Perkenalan dan meperkenalkan diri ini bukan sekadar berkenalan. Ada maksud lain yang lebih substantif. Yakni membangun kepercayaan diri.

Di kampus, mahasiswa PPL  mempelajari bahwa anak yang terbuka dan berani memperkenalkan  diri mempunyai rasa percaya diri tinggi dan mempunyai kesempatan sukses lebih besar. Keterbukaan memperkenalkan identitas adalah salah satu bentuk rasa percaya diri yang tinggi.

Salah satu tokoh psikologi / BK yang  memperkenalkan teori  ini adalah Erik Erikson.

Erikson mengatakan anak usia SMP (12-15) tahun itu masuk tahap ke-5 dalam perkembangan, yakni Identity vs Role Confusion  (Identitas vs Kebingungan Peran).

Memperkenalkan diri bukan sekadar menyebutkan nama tetapi adalah proses pencarian jati diri. Di dalam perkenalan tersebut terdapat eksplorasi diri, integrasi nilai, dan kekuatan.

Ciri-ciri pelajar SMP yang mempunyai identitas kuat menurut Erikson adalah, pertama   punya tujuan. Dia tahu  minat, bakat, cita-citanya walau masih bisa berubah. Yang kedua adalah Konsisten. Dia tidak gampang ikut-ikutan teman karena sudah punya prinsip.  Yang ketiga, berani beda. Dia berani memperkenalkan diri apa adanya, tidak pakai topeng. Dan yang keempat adalah setia pada nilai. Punya pegangan moral/ keyakinan yang jadi kompas.*** BERSAMBUNG

 

Video Terkait: