Home Profil Tiga Tahun Riri Satria di OSH Asia Summit: Dari Transformasi Digital hingga Integrasi AI

Tiga Tahun Riri Satria di OSH Asia Summit: Dari Transformasi Digital hingga Integrasi AI

116
0
SHARE
Tiga Tahun Riri Satria di OSH Asia Summit: Dari Transformasi Digital hingga Integrasi AI

Keterangan Gambar : Perjalanan pemikiran Riri Satria dalam forum The Annual OSH Asia Summit memasuki babak baru.

SANUR, BALI - Parahyangan Post — Perjalanan pemikiran Riri Satria dalam forum The Annual OSH Asia Summit memasuki babak baru. Selama tiga tahun berturut-turut menjadi plenary speaker, Riri membawa pembahasan teknologi untuk keselamatan dan kesehatan kerja dari isu transformasi digital, menuju Artificial Intelligence (AI), hingga pada 2026 berbicara tentang bagaimana AI diintegrasikan ke dalam strategi Occupational Safety and Health (OSH) dan Health, Safety and Environment (HSE).

Pada OSH Asia Summit 2024, Riri membahas transformasi digital dalam OSH/HSE. Ia antara lain mengangkat pemanfaatan Internet of Things (IoT) di lingkungan pelabuhan melalui sesi depth discussion. IoT membuka peluang pemantauan kondisi kerja secara lebih cepat melalui sensor dan data.

Pembahasan kemudian berkembang pada OSH Asia Summit 2025 ketika Riri membawa isu Artificial Intelligence. AI dipandang memiliki kemampuan untuk membantu organisasi membaca pola, menganalisis risiko, dan mengembangkan pendekatan keselamatan yang lebih prediktif.

Memasuki OSH Asia Summit 2026 yang berlangsung di Prama Sanur Beach Bali Hotel, 21 Agustus 2026, fokus pembicaraan bergeser dari sekadar kemampuan teknologi menuju persoalan integrasi. Dalam tema “Integrating Artificial Intelligence (AI) to OSH/HSE Strategy”, Riri menjelaskan bagaimana AI seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi organisasi.

Menggunakan perspektif Enterprise Architecture, strategi OSH/HSE diterjemahkan ke dalam arsitektur yang menghubungkan strategi, proses bisnis, data, aplikasi, teknologi, manusia, dan tata kelola. Dengan demikian, organisasi tidak memulai dari pertanyaan teknologi apa yang sedang populer, melainkan dari kebutuhan strategis apa yang hendak diselesaikan.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi antitesis terhadap technology push, ketika organisasi memilih teknologi terlebih dahulu kemudian mencari persoalan yang dapat diselesaikan.

Bagi Riri, strategi harus menjadi titik awal, Enterprise Architecture menjadi jembatan, sementara AI berfungsi sebagai enabler.

Perspektif tersebut sejalan dengan pengalaman Riri di berbagai lingkungan. Ia saat ini merupakan Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital, dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, serta pernah menjadi Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia.

Pengalaman korporasi, akademik, dan pemerintahan tersebut membentuk cara pandang bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan dari manusia, proses, organisasi, strategi, serta tata kelola.

Tiga tahun kehadiran Riri di OSH Asia Summit pun memperlihatkan kesinambungan gagasan: 2024 berbicara tentang digital transformation, 2025 tentang Artificial Intelligence, dan 2026 tentang integration.

Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan. AI pun bukan tujuan. Keduanya merupakan sarana untuk membantu organisasi mengenali risiko lebih awal, mengambil keputusan lebih baik, mencegah kecelakaan, dan memastikan pekerja dapat kembali ke rumah dengan selamat. (RC/PP